PMKO Gelar Dialog Pluralisme & Kebhinekaan

PMKO Gelar Dialog Pluralisme & Kebhinekaan

Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene (PMKO) Universitas Bosowa menggelar Dialog Publik, Senin (2/4), bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Dialog Publik yang membahas tentang Pluralisme dan Kebhinekaan ini menghadirkan akademisi, budayawan dan tokoh agama Sulsel Dr. Ishak Ngeljaratan dan Udz. Das’ad Latif sebagai pembicara. Kegiatan yang digelar di Ruang Rapat Senat, lantai 9, Gedung 1 ini merupakan kegiatan yang digelar sebagai rangkaian peringatan paskah pada tanggal 26 maret yang lalu. Sebelumnya, PMKO telah menggelar kegiatan donor darah dan akan ditutup nantinya di perayaan puncak yang akan digelar di Malino.

Wakil Rektor III Dr. Abd. Haris Hamid di sela-sela sambutannya, menyampaikan harapannya agar kegiatan yang mampu merangkul berbagai golongan, agama, dan suku yang ada di kampus ini untuk terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Menyoal topik yang dibahas pada kegiatan ini, Abd. Haris mengungkapkan bahwa adalah hal yang penting untuk membangun jiwa terlebih dahulu untuk mendapat tubuh yang sehat. “Dalam artian, semangat untuk menghargai perbedaan itu yang harus dibangun untuk membentuk Indonesia yang sehat secara utuh,” ungkapnya.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Yusdi, mahasiswa Fisipol, ini dihadiri oleh mahasiswa Unibos dari berbagai fakultas dan latar belakang agama yang berbeda. Perbedaan inilah yang dijabarkan oleh kedua pemateri.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Dr. Ishak Ngeljaratan menjabarkan bahwa kemajemukan ini terjabar dalam tiga aspek penting, yaitu peta geografis, peta etnis, dan peta budaya. “Pluralisme adalah bagaimana mengerti, memahami dan memberlakukan perbedaan dari sudut pandang epistemologi,” ungkapnya menyoal tema kegiatan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa epistemologi adalah pemberian, olehnya perbedaan harus dihargai.

Senada dengan Dr. Ishak, Udz.Das’Ad Latif menyampaikan bahwa fitrah manusia adalah berbeda. “Maka perbedaan tidak boleh dipaksakan,” terangnya. Menurutnya, perbedaan seharusnya dihargai, karena ketika dipaksakan hanya akan memunculkan masalah.

Terkait dengan sistem pendidikan hari ini, Udz. Das’ad Latif mengungkapkan kekhawatirannya akan sistem yang berlaku. Menurutnya, sistem pendidikan hari ini hanya berfokus untuk membangun otak, bukan hati. “Harus ada yang dibenahi dari sistem kita ini, jiwanyalah yang mesti dibangun, baru kemudian badannya, senada dengan lagu kebangsan kita Indonesia raya,” tutupnya. (Humas Unibos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *