dr. Rhyan: Remaja Harus Tegas

dr. Rhyan: Remaja Harus Tegas

Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit 105 Universitas Bosowa bekerja sama dengan 28Pro Event Organizer menggelar Seminar Nasional dan Workshop Dampak Penyelahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang terhadap Perilaku Seks Bebas, Sabtu (16/1). Kegiatan ini digelar di Gedung Phinisi, lantai 3-4, Jalan Pettarani.

Seminar Nasional yang membahas tentang fenomena dan dampak perilaku seks bebas ini menghadirkan dr. Ryan Thamrin dan pihak BNN Sulsel selaku pembicara. Sebagai peserta, hadir peserta yang datang dari berbagai sekolah dan akademi kesehatan di Sulawesi Selatan dan Barat.

Kegiatan ini turut didukung pula oleh BNN, Ikatan Apoteker Indonesia, Persatuan Perawat Nasional Indonesia, dan Ikatan Bidan Indonesia.

Melalui seminar ini, dipaparkan bahwa angka kematian akibat narkoba adalah 12044 orang meninggal pertahun atau 33 orang perhari akibat penyalahgunaan narkoba.   Selain itu, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan. “Di tahun 2014 saja, prevalensi penyalahguna narkotika mencapai 2.18% atau 3.8-4 juta orang. Coba pakai 39% atau 1.57 juta orang. Teratur pakai (situasional) 37% atau 1.49 juta orang.

Angka-angka yang direlease oleh Badan Narkotika Nasional ini merupakan fenomena yang terjadi di sekitar kita. “Remaja hari ini, harus tegas menghadapi sesuatu. Harus berani dan tegas mengatakan tidak,” ungkap dr. Ryan

Dr. Ryan juga menekankan bahwa fenomena seks bebas tidak boleh hanya menyeroti kaum remaja saja. “Faktanya, di luar sana jumlah mereka para pelaku yang telah berumah tangga hampir sama banyaknya. Hal ini sama bahayanya dengan para remaja, karena mereka yang telah berumah tangga, lebih tidak terlihat,” tuturnya.

BNN merelease bahwa Masyarakat hari ini belum memiliki budaya merehabilitasi secara sukarela. Hal ini dikarenakan stereotype bahwa mereka yang telah mencoba narkoba adalah aib. Hal ini berujung pada masih kurangnya masayarakat yang dengan sukarela untuk melapor, karena takut ditangkap.

“Kultur masyarakat Indonesia dekat dengan kesenangan mendeskriminasi dan menghidupkan stigma. Apapun hasil dari semua penyalahgunaan narkoba, jauhi penyakitnya, jangan orangnya,” tutup dr. Rhyan. (Humas Unibos)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *